Langsung ke konten utama

Menyapa Keelokan Alam Talang



Jenuh dengan suasana perkotaan yang hiruk pikuk dengan kesibukan yang tiada habisnya. Akhirnya di moment Bulan Ramadhan tahun 2016 silam saya memutuskan kembali ke kampung halaman. Setelah mencoba mengejar ambisi yang tak kunjung tercapai, saya memutuskan untuk berbalik arah dan kembali menetap disini.

Seperti robot... itu yang saya rasakan. Harus berangkat kerja sebelum matahari terbit dan kembali ke rumah disaat matahari sudah kembali ke peraduannya, bahkan nyaris terbit lagi. Bayangkan saja saya harusberangkat pukul 5.00 pagi dari Mampang Prapatan, Jakarta Selatan menuju tempat aktivitas saya yang berada di Cengkareng, Jakarta Barat. Kebayang gimana saya harus berdesak-desakan di Busway dan berpindah dari satu halte ke halte lain.  Belum lagi harus berhadapan dengan segala kemacetan, polusi, kebisingan dan seabrek masalah lainnya yang ada diperkotaan.

Sungguh sangat bersyukur ketika pertama kali kembali menginjakkan kaki di Kampung halaman. Segala beban sirna seketika ketika tahu bisa kembali dekat dengan keluarga. Makanan ? jangan ditanya... salah satau hal yang paling dikangenin ketika berada di rantau adalah makanan khas dari daerah sendiri. Banyak sich yang ngaku-ngakunya nasi Padang, tapi kenapa rasanya nggak ngena ya??? Hehehe...

Satu hal lainnya yang paling saya rindukan yakni berkumpul dengan teman-teman lama. Bercengkrama bersama dan seperti biasa kalo sudah ngumpul kami pasti akan membicarakan tempat mana lagi yang akan kami jelajahi bersama. Karena memang begitu cara kami mengisi waktu luang. Bersantai menikmati alam yang hampir satu tahun tidak saya rasakan. Akhirnya... bisa juga melepaskan penat di alam bebas.
Diputuskan untuk perjalanan kali ini kami akan mendaki Gunung Talang yang terletak di Solok Selatan. Jujur ini pengalaman pertama saya untuk mendaki gunung. Karena dari dulu palingan kami hanya menikmati alam dengan trekking menuju kawasan air terjun ataupun dengan camping di pulau-pulau atau pantai. Rasa penasaran tentu ada, karena akan menjadi pengalaman yang berbeda tentunya. 

Seperti biasa keberangkatan kita mulai di hari Sabtu. Maklum, karena beberapa diantara kami adalah pegawai kantoran. Sehingga memang paling pas untuk melakukan perjalanan ini di akhir pekan, agar semua bisa terlibat. Karena kalo jalan-jalan begini makin rame makin asyik... ya nggak???
Semalam sebelumnya ada diantara kami yang sudah mengatur untuk penjemputan perlengkapan camping di tempat penyewaan. Mulai dari tenda, kerel, Botol minum dan segala kelengkapan lainnya sudah tersedia di satu tempat penyewaan, sehingga tidak perlu lagi mencari kesana kemari.

Pagi Sabtu menjelang dengan cuaca yang agak mendung. Namun tak menyurutkan hasrat kami untuk melakukan camping di Gunung Talang. Kami berkumpul disatu lokasi dan menyiapakan segala kebutuhan yang diperlukan dalam perjalanan ini. Setelah semua siap, kami mulai berangkat dengan mengendarai 5 motor. Masing-masing sepeda motor  dinaiki oleh dua orang.

Perjalanan dimulai dengan mencari tempat sarapan terlebih dahulu. Memang kami belum sarapan di pagi ini dikarenakan harus bersegera menuju lokasi yang menjadi tujuan. Agar tidak terjadi apa-apa nantinya selama perjalanan. Sedikit gambaran rute yang nantinya akan kami tempuh lebih kurang 1,5 jam perjalanan motor dan 5 jam berjalan kaki menuju cadas Gunung Talang. Bisa dibayangkan kalo belum mengisi bahan bakar selama perjalanan. Tepar... Tepar dech!!!

Sarapan selesai perjalanan dilanjutkan dengan melewati kawasan Padang Panjang hingga terus melewati Danau Singkarak. Sepanjang perjalanan mata kami dimanjakan oleh hamparan danau yang membiru serta pegunungan yang menjulang tinggi di sekitarnya.

Selain itu disekitaran danau Singkarak ini akan banyak ditemukan toko-toko boneka di kiri kanan sepanjang Jalan. Dikarenakan kawasan Singkarak ini merupakan sentra Kapas yang ada di Sumatera Barat. Jadi boneka-boneka lucu akan menjadi keunikan tersendiri pemandangan yang bisa dinikmati di Sepanjang Danau Singkarak.



Perjalanan dilanjutkan hingga kami tiba di posko pendakian  Gunung Talang. Seperti halnya posko-posko yang ada. Kami harus mendaftarkan nama dan barang bawaan terlebih dahulu. Serta membayar retribusi parkir selama kami melakukan perjalanan pendakian ini. Setelah urusan administrasi selesai dan nama dari salah satu PIC telah ditinggalkan di Posko, kami berangkat memulai petualangan ini.

Lebih kurang 15 menit berjalan, kami menemukan gardu yang bertuliskan “Selamat datang Di Gunung Talang”. Tak lupa momen ini diabadikan sebelum melanjutkan perjalanan. WOW!!! Pemandangan disini memang sangat indah. Dikiri dan kanan selama perjalanan terhampar perkebunan teh yang luas. Sejuknya udara ditambah lagi pemandangan Kebun Teh yang menghijau membuat fikiran lebih rileks dan berhasil membuat kami melepaskan kepenatan yang ada. Padahal ini baru awal lo... Tak sabar kami melanjutkan perjalanan sambil bercerita satu sama lain untuk mengisi waktu selama perjalanan ini.

Sesekali kami menyapa petani Teh yang mayoritas merupakan ibu-ibu warga setempat yang tengah bekerja memetik teh. Mereka membalas sapaan kami dengan penuh kehangatan... Ka Kamandaki jo hujan-hujan bantuak ko!!! (Mau tetap mendaki dicuaca hujan begini) Salah satu petani menyapa kami dengan lantangnya. Karena memang jarak kami dengan mereka cukup jauh. 

Cuaca memang agak kurang bersahabat. Di sepanjang jalanpun kami memang sempat harus berhenti dikarenakan hujan yang lumayan deras. Namun apa mau dikata. Segala persiapan telah dilakukan, nggak mungkin rasanya harus kembali pulang. Bahkan dari tempat kami berdiri, puncak gunung talangpun tidak terlihat karena tertutup oleh awan tebal. 

Sampai akhirnya kami harus beristirahat dulu di salah satu warung kopi yang berada di kaki gunung ini. Disini kami melepaskan diri dari kerel yang begitu berat dan menikmati makan siang, ngopi-ngopi hingga menunaikan Ibadah Sholat Zuhur. Sedang sibuk bercengkrama, kami didatangi salah satu Ranger Gunung Talang dan sedikit berbagi pengalaman mendaki Gunung ini. Dia juga meminta salah satu diantara kami untuk menyimpan nomornya jikalau nanti terjadi apa-apa selama perjalanan. Dia juga mengingatkan untuk selalu menjaga kebersihan dan segala sampah yang ada nantinya dibawa turun kembali. "Jangan buang sampah sembarangan".

Setelah bercakap-cakap dan beristirahat perjalananpun kami lanjutkan. Seingat saya waktu itu pukul 13.30 WIB dan kami masih berada disini. Entah jam berapa kami akan berada di cadas Gunung Talang ini. Mengingat waktu perjalanan nantinya akan memakan waktu lebih kurang 3 – 4 jam lagi. Ranger gunung sebelumnya sudah mengingatkan kami kalau nantinya nggak jauh dari posko ini bakal ada pendakian yang cukup terjal. Sehingga diharapkan kehati-hatiannya. Bahkan menurut ceritanya ada pendaki yang sempat trauma dan memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya ketika melewati pendakian ini. Memang benar pendakiannya cukup terjal, sehingga menguras tenaga. Saya dan teman-teman memutuskan untuk berhenti sejenak sambil melihat view ke arah bawah. Pemandangan yang ada disini sangat indah. Terlihat kebun teh yang tertata rapi dari kejauhan.

Selesai menikmati pemandangan yang ada, perjalanan kembali dilanjutkan. Benar saja ternyata hujan kembali mengguyur sepanjang perjalanan ini. Untungnya kita semua membawa mantel yang sempat dibeli saat mengendarai motor. Mantel-mantel yang terbuat dari plastik yang ada di pinggir-pinggir jalan. Lumayan biar nggak basah-basah banget.

Saya yang agak sedikit kerepotan karena salah kostum. Karena belum pernah mendaki gunung, menggunakan dua celana panjang yang berlapis. Sehingga agak sedikit membuat langkah terhambat. Saya fikir dikarenakan udara sangat dingin alangkah baiknya menggunkan double celana panjang biar nggak masuk angin. Eh ternyata ini bikin langkah saya jadi terbatas dan sesekali butuh dorongan dari teman-teman yang ada di belakang agar saya bisa menaiki pendakian demi pendakian yang ada.

Hujan terus mengguyur. Untungnya tidak lebat tapi merata disepanjang perjalanan menuju puncak gunung. Sendal yang katanya sendal gunungpun tidak mempan melewati medan yang ada. Keselip, terpeleset dan jatuh sudah menjadi hal yang biasa dalam perjalanan Apalagi disaat becek ini. Hingga akhirnya saya menggunakan sepatu Boat milik salah satu teman perjalanan  yang kebetulan saat itu dia membawa sepasang cadangan sepatu. Sedikit tertolong dan perjalananpun terus berlanjut hingga terkadang kami harus berhenti dan beristirahat untuk minum.

Kami saling mengingatkan satu sama lain agar tidak berlama-lama beristirahat Agar bisa sampai sebelum matahari tenggelam. Enaknya berjalan di alam bebas ya begini. Apalagi kalau bersama teman. Suka dan dukanya kami nikmati bersama hingga akhirnya kami mencapai Cadas Gunung Talang Pukul 18.30 WIB. Langitpun mulai gelap dan udara disini sangat dingin sekali. Air untuk mencuci kaki terasa seperti air es. Bisa dibayangkan gimana dinginnya keadaan tempat kami camping malam itu?

Sebelum hari semakin gelap kami mencari spot untuk mendirikan tenda. 4 tenda yang ada pada saat itu. 3 tenda diisi gerombolan cowok-cowok ketce... menurut kami sech... kami cukup ketce hahah... dan satu lagi diisi oleh suci, teman cewek yang nggak pernah mau ketinggalan untuk selalu ikut dalam setiap perjalanan yang ekstrim. Tenda selesai dipasang dan kamipun sedikit berleha-leha di tenda masing-masing. 

Jujur dimalam itu saya nggak sanggup untuk keluar dari tenda. Padahal teman-teman yang lain sudah menyuruh saya keluar dan merekapun mengisi waktu dengan membuat unggun dan bernyanyi-nyanyi dengan gitar sambil menikmati cemilan yang sudah dibeli di malam sebelumnya. Namun entah kenapa sesampainya di kemah ini perut saya melintir dan badan terasa dingin. Daripada harus kedinginan di luar tenda. Saya memutuskan untuk tidur-tiduran saja di dalam tenda. Lagian juga nggak bisa menikmati pemandangan apa-apa diluar sana.

Setelah rangkaian acara demi acara selesai. Akhirnya kami beristirahat lebih cepat. Mengingat keesokan pagi ingin menikmati sunrise di puncak Gunung. Tapi apa mau dikata. Hujan ternyata nggak kunjung berhenti hselama kami berada disana. Hingga impian untuk melihat matahari terbit harus kami kubur dalam-dalam dan biarkan menjadi kenangan... asikkk!!!

Sirna sudah harapan ingin berfoto di Puncak Gunung Talang. Apa mau dikata, yang namanya berjalan di alam bebas pasti begini. Kalau lagi untung bisa menikmati pemandangannya. Kalau nggak beruntung ya bisa nikmati hujannya. Semua bisa dinikmati. Nggak ada yang perlu disesali ya kan???

Kegiatan kami akhirnya diisi dengan merebus mie instant dan menyeduh kopi agar tubuh menjadi lebih hangat. Saat semua sudah kenyang, kami menyempatkan diri untuk menikmati pemandangan kabut yang ada. Hingga akhirnya Suci disuruh untuk masuk kesalah satu tenda yang ada dan ternyata saat dibuka bergema ucapan...

Happy Birthday!!!! Happy Birthday!!! Happy Birthday To You!!!



Nggak beberapa hari lagi memang Suci akan berulang tahun yang Ke 28 dan disini kami merayakannya secara sederhaaa. Dengan bolu yang dilumeri pasta coklat dan sedikit serbuk gula mempercantik bentuk kue ulang tahu yang sudah agak mengeras dikarenakan diterpa cuaca dingin selama semalaman. Ngak lupa tingkah-tingkah usil melumuri mukanya dengan pasta coklatpun tidak bisa terelakkan.

Usai berbenah dan merapikan segala tenda dan peralatan yang ada dengan berat hati kami meninggalkan cadas Gunung Talang ini. Memang akhirnya kami tidak bisa menuju puncak dikarenakan hingga pukul 11.00 siang hujan tak kunjung reda. Akhirnya kami harus berbenah dan segera meninggalkan tempat ini. Mengingat perjalanan kebawah juga akan menempuh waktu yang panjang. Hujanpun harus kami tempuh dan perlahan tapi pasti menyusuri kembali perjalanan yang dipenuhi dengan genangan air dan bebatuan licin yang merupakan imbas dari hujan yang awet nggak ada matinya ini.

Berniat pastinya suatu saat nanti bisa kembali menyapa keindahan Si gunung yang cantik ini, tentunya harus bisa sampai di puncaknya. Karena memang perjalanan kali ini kami belum berhasil menginjakkan kaki di Puncak tertingginya. Namun tetap perjalanan ini begitu manis untuk dilupakan dan berharap perjalanan lain nantinya akan lebih indah kedepannya.



Komentar

Rekomendasi Untuk Anda

Pesona Puncak Kabun Singgalang

Puncak Kabun Singgalang Berburu keindahan alam merupakan salah satu hobi yang kembali tengah saya tekuni belakangan ini. Berbagi foto dan menuliskan segala pengalaman diberbagai tempat yang saya kunjungi merupakan suatu kebanggaan. Terutama jikalau bisa mengekspos tempat-tempat indah yang belum banyak diketahui khalayak ramai. Bahkan waktunya pun sering saya lakukan di jam-jam sibuk perkantoran. Agar dapat menikmati keindahan alam tanpa banyaknya orang atau kendaraan yang berseliweran kesana kemari. Kali ini saya menyaksikan langsung keindahan Puncak Kabun Singgalang yang berada di Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam. Lokasi ini nggak jauh letaknya dari Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Syekh Bagodaik di Jorong Baringin, Kanagarian Cingkariang. Keasrian alam, sejuknya udara di lokasi ini berpadu dengan keramahan warga sekitar yang mayoritas berprofesi sebagai petani sayur menemani perjalanan kami kali ini.  Siang itu tepatnya setelah Shololat Dzuhur, ...

Berkunjung Ke Rumah Apung Di Kampung Mandas Taroesan

Awalnya keinginan kembali mengeksplorasi keindahan Kawasan Wisata Taman Laut Mandeh ini dikarenakan ingin berkunjung ke spot Taluak Sikulo yang belakangan cukup viral. Tekad yang sudah bulat membuat kami bersemangat untuk mengunjungi lokasi yang katanya mirip dengan pemandangan pantai yang ada di Bali. Namun perlahan tapi pasti tekad yang bulatpun terkikis sedikit demi sedikit oleh terjangan badai laut yang cukup membuat  panik dan berhasil menyurutkan keinginan untuk menginjakkan kaki disana. Sehingga kami memutuskan  untuk berbalik arah ke lokasi lainnya.  Yang jelas disaat gelombang ombak sudah mulai tinggi. Saya buru-buru mengambil dan membagikan life vest agar dapat meminimalisir jika hal yang tidak diinginkan nantinya terjadi. Namun di tengah jalan keputusan diambil agar merubah rute perjalanan ke lokasi lainnya dikarenakan cuaca makin tak kunjung bersahabat. Bukan menyerah hanya saja demi kebaikan bersama kami pikir lebih baik membatalkan perjalanan kali ini ke Ta...

Catatan Seorang Penyiar Radio

Banyak orang tentunya terlahir dengan memiliki suara nan indah. Namun banyak juga yang harus bekerja keras untuk memiliki kualitas vocal yang baik untuk menjadi seorang penyiar professional. Radio merupakan media yang hanya bisa didengar. Tentu saja suara merupakan aset terpenting seorang penyiar, yang sekaligus merupakan ujung tombak /  front liner  yang langsung berinteraksi dengan pendengar. Hanya saja menjadi seorang professional tidak cukup hanya bermodal suara emas, tapi juga banyak kriteria lainnya yang harus dimiliki orang-orang yang ingin berkecimpung dalam dunia kepenyiaran. Kira-kira apa saja sih yang dibutuhkan? Penyiar harus memiliki  wawasan  yang luas agar dapat menghidupkan suasana siarannya. Karena biasanya orang-orang pada umumnya menganggap kalo penyiar merupakan sosok pribadi yang serba tahu. Oleh karena itu penyiar dituntut untuk serba tahu dengan permasalahan ter- update. Untuk itu para penyiar dituntut untuk rajin mencari informasi de...

Menyusuri Keindahan Alam Kamang Dengan Bersepeda

Perasaan was-was pastinya masih menghantui. Apalagi kita tahu Covid-19 masih belum bisa dikendalikan. Namun apadaya, keinginan untuk menjelajah keindahan alam sudah tidak terbendung lagi. Walau hanya dengan menempuh lokasi yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal. Tapi untuk sementara waktu nggak apa-apalah, yang penting masih bisa refreshing dan sedikit mengeluarkan keringat. Karena bisa dibilang beberapa bulan kebelakang aktifitas lebih banyak di rumah aja. Jadi kebayang dong seberapa tebalnya timbunan lemak yang menyelimuti badan ini. Gaya hidup baru tentunya tetap diterapkan. Protokol kesehatan selalu menjadi perhatian kita bersama. Dengan menggunakan masker kain dan yang pasti harus jaga jarak. Tempat yang dipilihpun sebisa mungkin jauh dari keramaian. Agar tidak terjadi penularan yang dikhawatirkan. Untuk teman-teman yang berpartisipasipun tidak begitu banyak. Hanya saya dan tiga rekan lainnya. Paling tidak cerahnya hari di sore itu bisa mengobati kerinduan hati untuk menikmat...

Bermalam Di Kawasan Pemandian Aie Angek Bukik Kili

Perjalanan ini dimulai pada malam minggu. Saat itu saya dan teman seperjalanan ingin menikmati pemandian air panas yang ada di Kota Solok terlebih dahulu. Karena memang dalam perencanaan mengelilingi Kota Sawahlunto di keesokan harinya. Oleh karena itu kami sengaja berangkat setelah waktu ashar dengan mengendarai dua sepeda motor. Sebelum sampai di lokasi pemandian kami menyengajakan untuk mengulur waktu dengan menikmati pemandangan sekitaran Danau Singkarak sambil ditemani petikan gitar dan kopi sore.   Perjalanan baru kami lanjutkan selepas Maghrib hingga akhirnya kami sampai ke lokasi pemandian Aia Angek Bukik Kili (Pemandian Air Panas Bukit Kili) Solok sekitar pukul 20.00 WIB. Sesampainya di gerbang kami langsung membayar karcis masuk sebesar Rp. 5.000,-/ orang. Sangat terjangkau bukan? Lokasi dari pemandian air panas ini sangat gampang diakses. Terletak di Nagari Koto Baru, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok. Jika menggunakan kendaraan hanya berk...

Marketing Consultant Asuransi Sinar Mas Bukittinggi

Konsultasi seputar asuransi kerugian : - Asuransi Kendaraan - Asuransi Kebakaran - Asuransi Property All Risk - Asuransi Kecelakaan Diri - Asuransi Kecelakaan Diri Siswa - Asuransi Perjalanan (Domestic / Overseas) - Asuransi Pengangkutan / Cargo - Asuransi Hole In One (Golf Insurance) - Asuransi Kesehatan - dll Bisa menghubungi : Wawan MJ Marketing Consultant Asuransi Sinar Mas Bukittinggi 082386458987 (WA/Telp)

Banto Royo, Wisata Alam Nan Eksotis Di Agam

S udah lama terngiang namanya, bahkan bisa dibilang cukup viral di media sosial. Hanya saja lokasi ini baru resmi dibuka beberapa minggu kebelakang. Dari segi pemasaran cukup menarik ya. Dimana netizen dibuat penasaran dengan keberadaan lokasi ini, jauh sebelum dibuka. Ibarat film, ada teaser-nya dulu, biar orang-orang pada penasaran, ya nggak? Gimana nggak membuat  perhatian netizen tertuju kesini? Spot wisata yang masih tetangga-an dengan Tirtasari Sonsang ini berhasil menyita perhatian khalayak ramai dan menjadi perbincangan di media sosial karena keindahan alam yang dihadirkan dan dirasa sangat instagrammable. Keindahan lokasi wisata yang merupakan kawasan hutan rawa yang dikelilingi bukit kapur di Koto Tangah ini bisa dinikmati dengan berbagai cara. Mulai dari menyusuri spot demi spot dengan berjalan kaki melewati jembatan bambu disepanjang lokasi, ataupun dengan mendayung perahu kano yang juga disewakan disini. Bahkan bisa juga menikmati pemandangan...

Catatan Si Tukang Jalan (E-Book)

Tukang Jalan, terdengar aneh dan memiliki konotasi yang kurang nyaman bagi orang-orang yang diberi julukan tersebut. Sebab Tukang Jalan sering disangka orang-orang yang suka jalan tak tentu arah. Disini Penulis dan rekan-rekan perjalanan mencoba menepis anggapan itu. Karena dengan berjalan kami bisa banyak belajar, membuka wawasan, melepaskan diri dari kepenatan bahkan bisa mengenalkan potensi wisata yang ada di Indonesia kepada khalayak ramai. Tentunya banyak dari kita yang beranggapan kalau jalan-jalan harus dengan biaya yang mahal. Padahal begitu banyak spot-spot di Indonesia yang bisa dicapai dengan budget minim, bahkan gratis. Kenapa tidak kita manfaatkan kesempatan ini untuk mengeksplorasi kekayaan negeri kita ini. Karena tak kenal maka tak sayang, bukan? Buku " Catatan Si Tukang Jalan" ini bercerita tentang perjalanan Penulis dan rekan-rekan se-perjalanan menyusuri tempat-tempat wisata yang masih belum banyak dikunjungi oleh orang-orang hingga tempat-tempat wisata ya...

Berkunjung Ke Penangkaran Penyu Pariaman

Mumpung lagi nggak ada schedule kerjaan, saya dan 3 rekan lainnya mengisi kegiatan dengan jalan-jalan siang ke Pariaman. Tujuan utama kesana yaitu ingin melihat langsung penangkaran penyu yang berada di Dinas Kelautan Dan Perikanan di Apar, Pariaman Utara.  Keberangkatan menuju lokasi ini dimulai pukul 11.00 WIB. Memang sengaja agak siang, sesampainya disana pas disaat jam makan siang. Perjalanan kali ini kami lakukan dengan mengendarai sepeda motor. Hanya saja derasnya hujan membuat kami terpaksa berhenti di beberapa tempat, sehingga sampai di Pariaman harus molor dari waktu yang telah ditentukan.  Sesampainya di Pariaman kami menuju ke salah satu warung makan yang ada di Pantai cermin. Tempat makannya sangat sederhana, hanya saja rasanya sangat menggugah selera. Sampai saat menulis inipun saya masih merasa ngiler saat membayangkan makanan yang dihidangkan. Pantai Cermin   Agak khawatir juga kalo nantinya kami nggak bisa menikmati makan siang disin...

Popular Posts

Pesona Puncak Kabun Singgalang

Berkunjung Ke Rumah Apung Di Kampung Mandas Taroesan

Berkunjung Ke Penangkaran Penyu Pariaman

Jelajah Wisata Bukik Baka Park Kamang

Catatan Perjalananku Di Pulau Pasumpahan

Catatan Seorang Penyiar Radio

Minggu Pagi Di Pasar Digital Kubu Gadang

Catatan Si Tukang Jalan (E-Book)

MC Di Perhelatan Home Decor Lovers Bukittinggi